Kita dan Tragedi Tanjung Priok

“Kita juga bisa kejam, bisa meledak, ngamuk, membunuh, membakar, khianat, menindas, memeras, menipu, mencuri, korupsi, khianat dengki, hipokrit..”

Mochtar Lubis

Manusia Indonesia

Mungkin saat ini, Mochtar Lubis di atas sana sedang tersenyum miris. Campuran sedih, marah, geram, mungkin mengutuk. Bagaimana tidak, pidatonya 33 tahun lalu mengenai ciri manusia Indonesia, terbukti masih relevan sampai sekarang . Lihat saja peristiwa Tanjung Priok kemarin sore.

Manusia yang terkapar bersimbah darah diinjak-injak. Dipukul dengan kayu, besi, dan apapun yang cukup keras untuk menyakiti. Teriakan “bakar!bakar!’ sambil menyeret seseorang yang bersimbah darah. Tangan manusia yang hampir putus disabit benda tajam. Ambulance dihadang mengangkut korban yang sekarat. Disabit dengan golok. Anak-anak tanggung mengacung-acungkan parang. Mobil dibakar. Barang-barang dijarah. Perang batu. Terkadang diiringi oleh chanting kepada Tuhan.

Terlalu kejam untuk digambarkan. Mungkin, inilah akibatnya jika lupa kita adalah manusia. Saya kira hewan paling menakutkan pun tidak sebuas kita-makhluk yang katanya berakal budi dan beragama.

Sulit berbicara benar salah secara hitam putih jika kita hanya bisa mengamati dari layar kaca televisi. Tapi, siapapun yang salah, tindakan mereka tidak dapat dibenarkan. Dan itu patut kita kutuk.

Aparat, Hukum, Agama, dan Media Massa

Nasi sudah jadi bubur, darah sudah bersimbah, nyawa sudah melayang. Bagi kita-orang yang hanya bisa mengamati-paling penting adalah mencegah supaya tidak terjadi lagi hal seperti ini. Tindakan atau setidaknya kecaman, memastikan suara kita didengar-dengan cara damai tentunya.

Sedikitnya empat pihak memiliki peran penting: aparat, hukum, agama, dan media massa.

Aparat, dalam hal ini polisi dan khususnya Satpol PP, terlanjur dibenci banyak orang. Akumulasi kemuakan masyarakat melihat tindakan sewenang-wenang mereka sulit dibendung. Rumah, kios dan toko warga dihancurkan dan diobrak-abrik. Rakyat kecil dipukuli. Pernah, seorang kenalan penulis, melihat oknum Satpol PP menendang pengemis wanita yang sedang hamil, tanpa sebab yang jelas. Tak heran ketika ada kesempatan, akumulasi itu dilampiaskan-dan akibatnya mengerikan. Terakhir, 2 orang tewas, 130-an luka-luka, dan puluhan mobil dibakar.

Tentu tuntutan pembubaran Satpol PP, atau setidaknya perombakan, menjadi wacana yang perlu dibahas dengan serius. Harus dipikirkan bagaimana aparat tegas dalam bekerja, namun tidak sewenang-wenang. Sulit, namun harus dikerjakan.

Begitu juga dengan hukum. Sudah bukan rahasia lagi, hukum di Indonesia, tidak berpihak pada rakyat kecil. Dalam masalah lahan Makam Priok, pihak Pelindo II seakan alpha, bahwa ini adalah hal sensitif, karena menyangkut solidaritas sejarah, sosial budaya, dan agama. Bagi orang-orang disana, makam ini dianggap keramat-jauh lebih keramat daripada keputusan pengadilan. Tidak heran massa mudah terprovokasi. Perlu dilakukan pendekatan lebih persuasif, apalagi jika benar makam bukan mau digusur, tapi justru diperluas, dibersihkan, bahkan diperbaiki. Dialog dengan tokoh masyarakat wajib diutamakan.

Ketiga adalah agama. Agama memiliki peran yang penting disini. Tidak bisa dipungkiri, isu telah menjadi masalah agama. Hans Kung, seperti dikutip Benyamin Intan dalam buku Public Religion-nya, berbicara mengenai dua sisi agama. Pertama, peran pasif dan negatif: agama harus berjuang agar tidak menjadi sumber konflik. Agama harus menahan diri dan waspada, untuk menghindar dari kemungkinan memicu konflik yang bisa merusak kedamaian. Sejarah menunjukkan bagaimana agama, dibalik wajah damainya, kapanpun bisa berubah menjadi sesuatu yang mengerikan dan menakutkan.

Bagaimanapun, wajah mengerikan dari agama bukanlah wajah sejatinya. Motivasi dan keinginan rekonsiliasi antara berbagai kelompok agama, mencerminkan sisi lain agama, peran aktif dan positif agama. Kung sangat optimis bahwa agama memiliki kontribusi signifikan dalam perdamaian dunia.

Disinilah peran penting pemuka agama, terutama dari arus utama yang moderat. Karena hakikinya, agama tidak pernah mengajarkan umatnya untuk membunuh, membakar, apalagi menjarah. Kekerasan agama biasa hanya diajarkan dan dilakukan sekelompok kecil ekstrimis agama.

Namun disinilah ironinya, entah kenapa kelompok kecil ini bisa memiliki pengaruh yang cukup besar dan terkesan lebih mewakili ketimbang kelompok arus utama. Satu PR penting bagi kelompok arus utama untuk menunjukkan bahwa agama mereka tidaklah identik dengan kekerasan. Dan upaya ini harus bisa menjangkau kalangan akar rumput jika tidak ingin sia-sia.

Terakhir, media massa, khususnya televisi harus menyadari besarnya pengaruh mereka. Bias, opini pribadi, dan tidak mengindahkan azas praduga tak bersalah harus dihindari. Dalam kasus ini, setidaknya ada tiga kelemahan televisi-kemungkinan terjadi demi eksklusivitas dan memenangi persaingan-kesalahan informasi mengenai eksekusi makam, penayangan gambar yang tidak pantas, dan pengulangan gambar-gambar yang bisa menimbulkan bias.

Televisi menulis bahwa makam akan digusur, sedangkan pihak pemerintah mengatakan hanya akan membongkar gapura dan pendapa, bukan makam. Dan re-chek ke pemerintah dilakukan terlambat-setelah kerusuhan pecah.

Kedua, gambar-gambar manusia dinjak-injak, terkapat bersimbah darah, dan teriakan “bunuh!bunuh!” bukan tidak mungkin membuat pihak yang menonton marah, tanpa dengan tepat mengatahui duduk persoalanya menuding salah benar.

Tambahkan dengan pengulangan terus menerus gambar-gambar ini, apa yang kita dapat?

Puluhan kilometer dari Tanjung Priok, sekelompok orang, mungkin ratusan, menyerbu kantor dan mengancam membakar kantor walikota di Jakarta Pusat, membuat wakil gubernur harus dievakuasi. Bukan tidak mungkin peristiwa anarkis yang sama dilakukan ditempat lain dengan alasan solidaritas.

Beruntung sebagian televisi cepat tanggap, mengundang pemuka-pemuka agama yang terpandang untuk menghimbau massa. Hal yang seharusnya dilakukan dalam situasi konflik, bukan memancing kemarahan yang lebih luas, tapi memberikan pesan perdamaian. Dan televisi, diatas semua medium lainnya, memiliki kemampuan untuk itu.

Penutup

Kerusuhan seperti ini bukan pertama kalinya-tahun 1984 terjadi kerusuhan yang hampir mirip–dan mungkin bukan terakhir kalinya, jika semua pihak tidak mau memperbaiki diri. Jika semua pihak tidak mau mengingat bahwa mereka adalah manusia.

Manusia yang berakal budi dan beragama.

Me, My Father’s Room, 8:37 PM

 

Note:

Tulisan serius pertama saya di kompasiana. Tak ada perencanaan. Ketika itu, saya sedang menonton televisi dan tidak sengaja melihat laporan langsung kerusuhan. Kebrutalan yang saya lihat, tidak bisa dikatakan. Dua satpol pp yang sudah terkapar terus diinjak, dipukuli, diseret, bahkan ingin dibakar (belakangan adegan ini disensor dan mungkin ada teguran terhadap adegan sadis itu)

Saya berlari ke kamar atas, membawa laptop turun, kemudian langsung mengetik sambil terus menonton televisi. Ketiadaan internet membuat saya mem-post tulisan ini keesokan harinya di kampus. Mendapat respon positif dan dijadikan headline, pertama untuk saya. Belakangan, ditelusuri bahwa itu bukan makam asli Mbah Priok.

 

About these ads

2 thoughts on “Kita dan Tragedi Tanjung Priok

  1. It’s actually a cool and helpful piece of information.

    I’m happy that you just shared this helpful info with us.
    Please keep us informed like this. Thanks for sharing.

  2. Pingback: the Shelter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
The Esquire Theme.

%d bloggers like this: