Sebuah Buku, Sebuah Saksi

Hari itu satu sore yang sejuk di taman sebuah mal di bilangan Jakarta Barat. Saya ada janji bertemu kawan lama, seorang wartawati harian bisnis nasional. Barangkali sudah setahun kami tidak bersua, tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Kami bicara banyak, bercanda, kadang berkelu kesah. Lalu pembicaraan menjurus ke hal yang paling mengikat kami: jurnalisme.

Ia sedang kesal betul menceritakan jurnalis-jurnalis gadungan yang bekerja hanya untuk minta amplop kesana kemari. Tetapi Ia lebih marah lagi kepada mereka yang katanya dari media profesional, namun tingkahnya tidak beda. Munafik, keluh kawan saya. Ceritanya berhenti sejenak, minuman lemon dingin yang agak telat dibawakan pelayan sudah datang. Satu seruputan, Ia melanjutkan serapahnya:

“Pekerjaan ini lebih hina dari pelacur!”

***

Metta Dharmasaputra seorang yang kelihatan biasa saja. Perawakannya agak kurus. Rambutnya hitam pendeknya nampak selalu rapi. Dengan kacamata minus, Ia lebih terlihat seperti seorang dosen, ketimbang jurnalis investigatif. Kebetulan, saya pertama kali tahu tentang Metta ketika Ia menjadi pengajar tamu di kelas yang diampu Ignatius Haryanto, dosen saya di jurusan jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara.

Tapi jangan salah. Meski pembawaannya tenang, Ia rupa-rupanya seorang jurnalis kawakan. Bekerja di media Tempo sejak 2001 sampai 2012. Selain spesialisasi di kompartemen ekonomi dan bisnis, Ia juga pernah menjadi Redaktur Pelaksana untuk rubrik Investigasi di majalah Tempo. Dua bidang inilah: ekonomi bisnis dan investigasi, yang terejawantahkan paling jelas dalam buku “Saksi Kunci” yang baru Juli lalu di luncurkan.

Ini kisah nyata soal investigasi skandal pajak terbesar di Indonesia. Didalamnya ada masalah yang merundung Asian Agri, perusahaan milik Sukanto Tanoto, orang terkaya di Indonesia tahun 2006 dan 2008 versi Forbes. Vincentius Amin Sutanto, mantan Financial Controller Asian Agri Group, yang membobol uang perusahaannya sendiri, kabur ke Singapura, dikejar-kejar sambil mendapat ancaman “dihilangkan.” Akhirnya membantu negara menjadi whistleblower yang ujung-ujungnya menyingkap masalah pajak Asian Agri senilai 1,3 triliun rupiah. Metta, seorang jurnalis yang, seperti kata Wendy Bacon dalam komentarnya terhadap buku ini, menghadapi tantangan etika tak terduga akibat hubungan dengan sang whistleblower. Tempo yang menghadapi gugatan hukum karena liputannya.

Rasa-rasanya, seluruh elemen narasi paling menarik ada dalam buku ini. Ada tokoh besar, ada konflik, ada bahaya, ada intrik, ada pengkhianatan, ada rekonsiliasi.

Komplit.

***

Saya diam mendengarkan luapan kekesalan kawan saya, sembari sesekali mengangguk. Itu perasaan yang saya amini betul. Meski hanya sebentar–karena dapat kesempatan studi lagi–setahun pontang-panting mengejar berita memberi banyak pelajaran penting tentang profesi ini. Saya ingat betul, kesalnya waktu dalam satu liputan, diam- diam dikuntit seorang panitia acara hingga ke WC, lalu tiba-tiba di sodori amplop. “Untuk ganti uang transport mas,” ujarnya sambil tersenyum lebar, dengan deretan gigi mengkilap menyembul dibaliknya. “Tak perlu mas, makasih!” jawab saya ketus sambil lalu.

Waktu diposkan di sebuah departemen pemerintah di sekitaran Monas, lebih lagi. Tiap saban hari dapat pesan singkat, isinya undangan liputan. Sebenarnya wajar saja, malah membantu kita yang di kejar-kejar kuota berita harian. Tetapi, kata-kata di akhir kalimat itu, bikin geli. “Ada joss,” kadang-kadang “barokah.” Kalau acara besar dan penting bagi penyelenggaran, sms disisipi “super joss!” Ini sandi-sandi untuk bilang amplop, alias sogokan, supaya berita yang ditulis jadi lebih bernuansa positif, atau setidaknya kalau ada kejadian buruk, diperhalus sebisa mungkin.

Kadang dalam satu liputan, banyak jurnalis, entah sungguhan atau bukan, yang antri manis di akhir acara. Rupa-rupa nya harus tanda tangan dulu baru dapat “joss.”

Alamak!

***

“Saksi Kunci” merupakan kristalisasi perjalanan jurnalistik Metta dalam menginvestigasi masalah pajak Asian Agri sepanjang kurang lebih 6 tahun. Mulanya adalah 24 November 2006 di Jakarta, lewat sebuah telepon dari Agustinus Ferry Sutanto, yang mengabarkan soal kakaknya, Vincent yang sedang dalam pelarian ke Singapura.

“Saya punya info penting. Kakak saya memiliki berbagai dokumen manipulasi pajak perusahaan Sukanto Tanoto.”

Dan, sebuah perjalanan investigasi yang tak terduga bak film hollywood, akhirnya dimulai.

Buku ini tebalnya 446 halaman. Secara umum, ada tiga topik besar dalam buku ini (hal. ix), menceritakan soal kasus hukum Vincent seputar pembobolan uang perusahaan, kasus indikasi manipulasi pajak Asian Agri Group, serta persoalan seputar liputan investigasi Tempo. Dengan cerdas, Metta menghindari penulisan kronologis yang rawan membuat pembaca bosan, dan memakai teknik kilas balik yang seringkali berakhir menggantung, membuat kita terus penasaran untuk membaca kelanjutannya. Cerita juga dipenggal pendek pendek 5-6 halaman hingga ada setidaknya 50 sub-bab, ini ikut membantu tempo pembacaan sehingga tidak terasa “memberatkan.”

Alhasil, struktur narasinya memikat, memaksa saya habis membacanya dalam dua hari, disela-sela rehat menjadi suster dadakan di  lebaran ini untuk keponakan kembar yang baru berusia 4 bulan.

Namun narasi tak pernah boleh sekedar memikat, Ia harus berdasarkan fakta. Dan Metta, hemat saya, melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Selain akses ke buku harian Vincent, ada puluhan tokoh yang diwawancara, penelusuran catatan pengadilan, termasuk data internal Asian Agri yang mencapai 11 gigabytes. Verifikasi, verifikasi, dan verifikasi. Cek dan ricek antar pengakuan dan dokumen. Setidak-tidaknya sebuah informasi harus berasal dari dua sumber jika tidak dilihat atau didengar secara langsung oleh Metta (hal. xlii)

Ini tak mengherankan. Profesionalitas Metta dalam liputan soal Asian Agri membuat Ia dianugerahi Udin Award dari Aliansi Jurnalis Independen pada tahun 2008. Ini sebuah penghargaan untuk jurnalis yang menjadi korban kekerasan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, sekaligus pengingat bahwa masih ada ancaman bagi kebebasan pers. Metta sendiri dalam investigasinya, akhirnya harus berhadapan dengan polisi. Telepon genggamnya disadap dan pesan-pesannya dibocorkan ke publik. Selain itu, dalam bab Paranoid (hal. 285), Ia juga menceritakan bagaimana “teror-teror” misterius harus dihadapi dirinya dan keluarga.

Menjadi jurnalis memang bukan pilihan main-main. Kuasa tulisan bisa bikin tentara keder, bahkan presiden tumbang. Tak heran, banyak pihak ingin mengkooptasi jurnalis dan juga media, untuk kepentingan pribadinya. Kadang dengan ancaman, kadang dengan menyediakan banyak amplop.

Disini, bagi saya, satu lagi peran penting “Saksi Kunci”. Buku ini, selain jadi saksi kunci masalah pajak Asian Agri, juga adalah saksi ke-integritas-an seorang jurnalis.

***

Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Satu persatu beberapa rekan lain datang. Dari mulut ke mulut, pertemuan ini jadi mengundang beberapa teman lama lain. Total lima kawan berkumpul dadakan. Akhirnya kami buat rencana buka puasa bersama dengan rekan yang muslim. Saya menyudahi perbincangan soal jurnalisme. Saya tidak dapat banyak bicara, namun terus merenungkan percakapan dengan kawan lama itu. Saya memikirkan kata-kata yang ingin saya sampaikan, tapi lidah saya keluh.

Saya lupa harus berkata apa.

Langit mulai gelap. Kami beranjak dan mencari tempat untuk makan. Setelah berjalan sebentar, kami sepakat makan di lantai paling atas gedung itu, di tempat terbuka yang menjorok keluar sehingga bisa menikmati angin malam. Sesudah makan bersama, saya mampir ke toko buku. Saya putuskan untuk mencari buku “Saksi Kunci.”

Sebelumnya, saya sempat menghubungi seorang rekan jurnalis di Tempo, menanyakan apakah mungkin bisa membeli lewat dia dan mendapatkan diskon (maklum budget mahasiswa). Ternyata malah buku ini dibagikan cuma-cuma bagi jurnalis Tempo. Jika ingin, rekan bisa coba memintakan kepada kantor. Saya malah jadi sungkan kalau gratis. Akhirnya, saya putuskan membeli, karena mendengar ada rencana untuk menggugat buku ini. Lagi pula, saya juga mau menghargai karya jurnalistik berkualitas seperti ini, yang sayangnya tidak sering ditemui di Indonesia.

Malamnya sesampai di rumah, saya menyepi di kamar dan mulai membaca. Dari halaman pertama, saya sudah tahu akan tidur pagi kali ini. Tetapi saya berhenti cukup lama di paragraf terakhir pengantar yang dituliskan Goenawan Mohamad:

“Bawah Sukanto Tanoto tidak lagi lepas, bahwa Vincent bebas, dan bahwa Metta berhasil menerbitkan buku ini–itu tanda bahwa harapan tidak selamanya palsu.”

Saya tersentak. Itu kata-kata yang harusnya saya sampaikan pada kawan saya–juga diri saya sendiri. Bahwa meski kondisi teramat sulit, harapan itu masih ada. Ia tidak melulu sebuah kepalsuan.

Buku ini buktinya.

One thought on “Sebuah Buku, Sebuah Saksi

  1. Granting of this financial assistance is based on financial need, career goals,
    academic standing and a manifestation of their great desire to complete a college
    education. The amount of money that is provided by these organizations is different from one type of scholarship to
    another. Students who are stranded to write their scholarship
    essays can always consult us for support.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Proudly powered by WordPress
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.

%d bloggers like this: