Guru, Sebuah Panggilan

 

 

 

The Governess originally called The Poor Teacher by Richard Redgrave, RA. 1844

 

“Jadi guru itu memang berdasarkan panggilan”

 

Kata-kata itu meluncur dari mulut Lia (26) tanpa banyak embel-embel;

Apakah ini sekedar kata-kata manis yang sering kita dengar dari orang-orang yang yang pandai berpolitik seperti yang marak Di TV belakangan ini?

Atau..

Namanya Lia, penampilannya sederhana, tak terlihat perhiasan ataupun aksesoris yang mencolok. Rambutnya dipotong pendek, dengan kacamata minus.Bicaranya lugas dan tidak bertele-tele. Wanita berumur 26 tahun ini dengan tenang menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya. Lia adalah lulusan salah satu Universitas swasta yang cukup terkenal di Jakarta, dia mengambil jurusan Teknik Informatika dan lulus pada tahun 2004.

Setelah lulus dia direkrut oleh salah satu perusahaan swasta untuk mengisi bidang keuangan.”Tidak cocok” demikian alasannya ketika berhenti dari perusahaan ini,

Kemudian dia kembali direkrut oleh perusahaan swasta, kali ini sebuah Perusahaan Consulting di daerah Slipi yang bergerak di bidang Human Resource Development and Organization, di sini Lia menjadi Associate Consultant, yang langsung bekerja kepada bos perusahaan itu. Bosnya juga cukup dikenal sebagai penulis tetap di sebuah majalah HRD. Pekerjaan yang sangat menjanjikan, tetapi Lia memutuskan untuk berhenti setelah bekerja selama hampir  satu tahun. ”Ada hal2 yang tidak sesuai dengan prinsip,” demikian ditegaskannya.

Kemudian Lia mengambil satu keputusan yang cukup drastis dalam hidupnya, dia memutuskan untuk menjadi guru SMU.

Awalnya, Lia mengaku menjadi guru  karena diminta oleh orang yang penting dalam hidupnya, seorang guru yang menurut Lia, ” menjadi figur dan teladan yang banyak merubah diriku waktu aku duduk di bangku SMU, karena itu aku juga ingin menjadi seperti itu bagi murid-muridku.” Selain itu dia juga ingin belajar banyak dibawah arahan guru ini. Jadilah dia mengajar di bekas sekolahnya, sekolah yang telah mendidik dia dari TK sampai SMA dan kini tempat dia mendidik. Menurut Lia, perubahan ini cukup menyenangkan bagi dirinya, dia bisa berinteraksi dengan murid-murid, membimbing serta membuka wawasan murid-muridnya.

”Bu Lia orangnya pengertian, bisa diajak komunikasi, mungkin karena mengerti tentang kehidupan sekolah” demikian komentar salah seorang murid. ”Bu Lia tuh guru yang ga kayak ”guru”, lebih seperti kakak sendiri, mau terima kritik, intinya, Bu Lia itu guru, teman sekaligus kakak buat aku” tutur seorang muridnya yang sekarang sudah menjadi alumni dan masuk perguruan tinggi.

Tak terasa sudah tiga tahun dilewati Lia sebagai seorang guru, adakah rasa menyesal karena menjadi guru? ”Tidak” jawabnya santai. Terhadap tudingan orang yang menganggap pekerjaan guru adalah pekerjaan yang remeh, Lia mengakui memang ada kesulitan, juga gaji yang bagaikan bumi dan langit dibandingkan ketika menjadi Consultan, tapi dia menegaskan, hal-hal yang dapat dia pelajari ketika menjadi guru jauh lebih berharga.

”Jadi guru memang berdasarkan panggilan, kalau bukan panggilan tidak mungkin bisa”

”yah, kalau tidak mengerti bahwa itu adalah hal yang harus dia kerjakan, di tengah-tengah hidup guru yang begitu susah, terkadang murid-murid yang merepotkan dan segala macamnya, kalau itu bukan panggilan hidupnya dia tidak akan bertahan lama.” jelas Lia, menutup wawancara singkat kami.

Di tengah-tengah zaman sekarang mungkin sulit percaya masih ada orang yang tidak mendewakan uang. Tapi Lia telah menjadi contoh dan teladan bagi kita semua. Kita berharap, akan ada banyak Lia-Lia lain, karena zaman ini sangat memerlukan teladan dan contoh seperti ini. Lia telah menjalankan panggilannya dengan baik.

 

Bagaimanakah dengan Anda?

 

Notes:

Ini adalah salah satu tulisan pertama yang saya buat. Tulisan yang saya posting disini orisinil dan tidak diubah sama sekali, termasuk jika ada kesalahan. Saat itu semester 2, sekitar 3 tahun lalu. Kalau saya tidak salah, ini adalah tugas membuat tulisan tentang profesi. Agar mudah, saya mewawancara saudara saya sendiri. Saya ingat sekali merekam wawancara itu dengan telepon genggam, kemudian diputar berulang kali agar tidak ada data/kutipan yang melenceng. Kalau melihat lagi, rasanya cukup lucu. Gaya tulisan masih sangat pemula (semoga dalam beberapa tahun ini ada kemajuan :p)

2 thoughts on “Guru, Sebuah Panggilan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s