22

the voyage of life by Cole Thomas

22 tahun bukan waktu yang terlampau panjang ataupun pendek.

Dibanding dengan nenek seorang sahabat yang mencapai usia 90 tahun, jelas itu terlalu pendek. Dibanding dengan pemuda yang meninggal di usia 17 tahun, lebih-lebih seorang anak yang harus menyudahi nafasnya ketika baru lahir, jelas itu terlalu panjang.

Hidup selama 22 tahun, juga tidak menunjukkan apapun, selain belas kasihan Tuhan semata.

Ketika melihat ke belakang, saya hanya lihat dua hal, hati manusia yang jahat dan kasih Tuhan yang entah berapa panjang, lebar, dan dalam. Semoga, ketika memandang saya, yang jelas terlihat adalah hal yang belakangan.

Dalam 22 tahun, banyak hal terjadi.

Orang-orang datang dan pergi. Suka duka silih berganti. Tawa tangis beriringan. Baik buruk menimpa. Benar salah terjadi. Jatuh bangun dijalani. Hanya membuktikan, lagi-lagi, betapa Tuhan adalah Tuhan yang panjang sabar.

Saya bersyukur untuk keluarga. Hal terbaik yang diberikan Tuhan dalam hidup. Untuk ayah yang bijaksana dan ibu yang pengasih. Untuk dua kakak yang penyayang. Mereka membuat, semua pencapaian diri terasa sepele, dan semua kegagalan terasa ringan. Mereka adalah rumah saya.

Dan bukankah, satu yang paling dicari manusia, adalah sebuah tempat untuk dipanggil, rumah?

Saya bersyukur untuk guru-guru. Yang mengajar bukan dengan kata semata, tapi dengan hidup. Yang ikut membentuk sehingga apa adanya saya sekarang ini. Yang kepada mereka, saya berhutang seumur hidup.

Saya bersyukur untuk sahabat-sahabat. Orang-orang yang datang dan pergi, tapi menambahkan warna dalam narasi hidup yang remeh ini. Menarik sekali, bagaimana setiap orang dengan keunikannya, bagaikan potongan puzzle yang begitu berbeda, namun dapat tersusun dengan rapi, membentuk rangkaian cerita dalam lembaran hidup saya.

Dan paradoks yang begitu besar. Untuk murid-murid saya, yang herannya, mengajari saya banyak hal, mungkin lebih dari apa yang bisa saya ajarkan kepada mereka. Berkesempatan datang, dan menuliskan sedikit cerita dalam hidup mereka, adalah anugerah yang begitu besar. Entah tulisan itu mulai pudar dimakan waktu, atau mungkin sudah terhapus dari jauh-jauh hari. Ataupun, saya harap, boleh ada sepanjang sisa hidup kalian.

Saya bersyukur untuk segala hal, langsung maupun tidak, yang Tuhan pakai. Yang mengajar saya berbicara hanya jika, saya bisa belajar dari keheningan. Yang mengingatkan, bahwa banyak hal tidak seperti apa yang terlihat di permukaan. Yang menuntut, untuk senantiasa mereformasi diri saya. yang memperlihatkan, bahwa hidup yang tidak dikaji, adalah hidup yang tak layak untuk dihidupi.

Segala sesuatu yang menjadi bahan untuk menuliskan narasi hidup saya, dalam buku kehidupan, terlebih, dalam keabadian. Betapapun hitam dan tidak karuan narasi ini, tak ada satupun penyesalan. Jikalau mungkin, saya akan mentertawakan setiap tawaran menjalani kehidupan orang lain, tak peduli seputih dan semulia apapun hidup itu.

Kalau hidup adalah sebuah perjalanan. Saya tidak tahu, apakah saya baru mulai melangkah, sedang berada di persimpangan, atau mungkin sudah hampir sampai ke tujuan akhir.

Kalau hidup adalah sebuah narasi, entah saya sedang berada di bab keberapa. Berapa bab saya sudah menulis, atau berapa bab lagi tersisa untuk ditulis.

Kalau hidup adalah sebuah pertandingan, tidak peduli di posisi keberapa, saya berharap, bisa mencapai garis akhir itu. Dan mendengar,

“selamat, peserta yang setia, kamu telah menyelesaikan pertandingan dengan baik,”

“sekarang, terimalah mahkotamu.”

One thought on “22

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s