Laicite

http://www.glff.org

Jumat lalu, saya menghadiri Kuliah Umum Laicite dan Kebinekaan di Salihara. Spontan saja, karena kebetulan sedang berada di daerah Pasar Minggu. Rencananya ceramah akan diadakan di Teater, tapi dipindah ke galeri, mungkin menyesuaikan kapasitas. Ada sekitar 50-60 orang. Bangku-bangku di galeri hampir penuh.

Jam 7 lewat, ceramah dimulai, dibuka oleh kata sambutan Goenawan Mohamad. Berhubung kuliah ini ditaja oleh Kedutaan Besar Prancis, GM keluarkan sedikit bahasa Prancisnya, fasih sekali. Lalu ada perwakilan dari Dubes Prancis memberi sepatah kata.

Pembicara utama adalah Prof. Michel Wieviorka. Ia sosiolog dan intelektual publik terkemuka Prancis. Perawakannya khas stereotip profesor. Rambut di bagian tengah kepalanya sudah menghilang. Cukup tinggi dan agak sedikit tambun. Kumisnya dibiarkan tumbuh lebat. Wieviorka pernah menjabat Presiden Asosiasi Sosiologi Internasional periode 2006-2010. Ia juga mantan murid Alain Touraine, sosiolog terkemuka yang mencetuskan istilah “masyarakat pasca-industri dan menggagas metode “intervensi sosiologis.”

Laicite adalah sebuah konsep masyarakat sekuler yang menunjukkan ketiadaan keterlibatan agama dalam urusan pemerintah dan sebaliknya. Di ceramah kali ini Wiviorka coba jelaskan konsep-konsep penting dan juga latar belakang lahirnya Laicite. Paparannya menarik dan rapi, hanya bahasa Inggrisnya sedikit susah didengar (bisa jadi telinga saya yang kurang terbiasa). Sayang waktu memang terasa kurang, Ia berbicara sekitar 50-60 menit. Jelas tidak cukup untuk kasih penjelasan mendetail.

Waktu habis untuk jelaskan latar belakang sejarah Laicite dan situasi Prancis sekarang. Hubungan langsungnya dengan kebinekaan tidak terbahas, meninggalkan justru pertanyaan penting, tentang tuduhan bahwa Laicite tidak menghargai dan menerima keanekaragaman budaya, dimana agama termasuk didalamnya.

Laicite, seperti konsep sekularisasi pada umumnya, diakui Wieviorka menimbulkan ekses karena mengkondisikan agama harus direlatifisasikan. Ini bisa menimbulkan radikalisme di kalangan umat beragama, berusaha pakai kekerasan untuk mengambil kembali mahkota kemutlakan itu. Kedua, kebalikan tapi sama berbahayanya, jelas Wieviorka, adalah menarik diri dari masyarakat. Tidak mau berpartisipasi sama sekali. Ia beri contoh kaum neo-salafi.

Isu agama dan negara memang hal yang rumit, terlebih di Indonesia. Semoga saja pemikiran-pemikiran seperti ini bisa membantu kaum intelektual dan agamawan merumuskan konsepsi yang terbaik untuk Indonesia. Dan sebenarnya, Pancasila sudah memberikan platform kokoh, yang tinggal dikembangkan sesuai konteks kekinian.

Siapa tahu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s