full-fledged

Besok saya akan bekerja. Pertama kalinya sebagai jurnalis penuh waktu. And it’s kinda exciting, entah kenapa.

Padahal dunia kerja bukan hal yang asing buat saya. Sekitar tujuh tahun yang lalu, waktu masih bercelana pendek biru, kira-kira kelas 2 smp, saya sudah menerima gaji pertama dari keringat sendiri. Kalau tak salah jumlahnya sekitar 150 ribu rupiah, yang kalau tak salah juga, saya berikan seluruhnya untuk orangtua. Ketika itu saya ikut bantu tempat kursus milik sahabat kakak pertama. Kerjanya adalah jadi asisten untuk bantu seorang pengajar di tempat itu, yang kebetulan adalah kakak kedua saya.

Saya ingat tugas paling dilakukan adalah memeriksa pekerjaan rumah murid-murid yang waktu itu masih di sekolah dasar (omong-omong, sekarang mereka ada yang sudah masuk kuliah, dan jadi murid privat saya ketika SMA) dan juga membantu mereka menghapal pelajaran. Sepulang sekolah, saya berjalan kaki ke tempat kursus. Kira-kira sampai pukul 2-3 dan selesai pukul 5-6 sore, kadang 7 malam, tergantung banyaknya tugas  dan ulangan mereka. Saya agak lupa, apakah itu setiap hari atau seminggu tiga kali. Tapi kalau mengingat mereka anak SD, biasanya les setiap hari.

Berapa waktu kemudian, saya mulai dipercaya memegang sekolompok anak sendiri. Tapi tidak banyak yang saya ingat. Yang pasti setelah itu, saya dapat anak yang ingin kursus secara privat, dikenalkan oleh pemilik tempat kursus tersebut. Jadilah saya mengajar dia, dari SMP 1 hingga lulus UN SMP. Waktu itu saya sudah SMA.

Yang agak tidak terduga, anak ini meninggal. Sayang sekali, padahal ia sudah lulus SMA dan sedang menunggu masuk kuliah. Saya ingat ibunya pernah menceritakan, kalau anaknya yang tidak suka belajar itu, senang sekali waktu diajar saya. Katanya ia suka menunggu melihat dari balkon menunggu saya, dan kalau saya agak terlambat dia suka gelisah. Malamnya, saya datang ke rumah duka tempat ia disemayamkan. Itu momen yang membekas sekali. Di situ, saya berdiri menatap murid pertama saya yang telah meninggal, di usia 17 tahun.

Ketika masih mengajar dia, saya mulai mendapat tawaran sana-sini. Rupa-rupanya ibu-ibu adalah sarana promosi yang luar biasa. Dari mulut ke mulut, saya mendapat banyak tawaran mengajar. Ada tiga  kakak beradik wanita, 5 SD, 3 SD, dan KB yang nakal. Ada kakak beradik perempuan kelas SMP-SMA. Ada dua laki-laki SMP. Dua laki SMP-SD. Seorang perempuan SMA. Dan masih banyak lagi. Saya terus mengajar sampai di penghujung kuliah. Waktu skripsi, saya berhentikan segalah kegiatan mengajar, kecuali ekskul jurnalistik yang saya asuh di Sekolah Kristen Calvin, Kemayoran.

Sepenghitungan saya, waktu terpadat mengajar saya adalah ketika saya berada di semester tiga atau empat. Saya mengajar kira-kira lebih dari 18 jam seminggu. Waktu itu saya selesai kuliah pukul 3 sore di Serpong, mengajar pertama pukul 4 sore di daerah Taman Ratu, pukul 5-5.30 lanjut di daerah sekitar itu. Selesai sekitar pukul 6-6.30. Istirahat makan, biasa saya pilih ketoprak, selain suka, juga murah dan cepat. Lalu Lanjut pukul 7-9 malam di daerah Teluk Gong. Jadwalnya agak bervariasi. Tapi kira-kira seminggu 5 hari, kadang ditambah sabtu dan minggu, itulah kegiatan saya. Waktu itu penghasilan puncak saya sempat mengalahkan gaji lulusan s1. Walau nilai kuliah sempat kendor dan kesehatan sempat drop.

Tapi saya senang. Belajar mandiri dan tidak bergantung pada orangtua. Saya mencicil motor saya sendiri, membiayai hidup sehari-hari dan membayar uang kuliah saya sekitar separuh plus beasiswa, sehingga tidak merepotkan orangtua. Malah, saya bisa rutin memberikan uang untuk orangtua. Belakangan saya juga membeli kamera DSLR pertama saya dari seorang kenalan, lewat mencicil. Banyak suka duka. Tapi saya memang senang mengajar. Bertemu dengan anak-anak itu menyenangkan. Kadang kalau nakal sekali, stress juga.

Sekarang saya sudah melepaskan semua les-lesan, kecuali mengajar ekskul jurnalistik tadi. Soal ini pernah saya buat dua tulisan, jadi tidak saya singgung lagi disini.

Selain mengajar, dunia jurnalistik juga hal yang menyenangkan bagi saya. Selama empat tahun kuliah, saya magang di tiga tempat. Tabloid Rumah, Kompas.com, dan Majalah Hai. Semuanya beri pengalaman jurnalistik yang mengesankan. Yang kapan-kapan (saya suka kata ini, jangan berharap terlalu banyak :p) saya ceritakan.

Singkatnya, setelah tujuh tahun mengajar, puluhan murid, tiga kali magang di media nasional. Besok, 5 September 2011, akan jadi hari pertama saya bekerja penuh waktu. Sebagai seorang jurnalis. A full-fledged journalist.

Wish me luck!

5 thoughts on “full-fledged

  1. terharu gw bacanya..
    kok ada ya yg mau diajarin sama lo har.. ahahahaha.. *kidding

    btw, posting dong pengalaman luar biasa lo kerja full-time as a journalist (or a jurtalis?) *lol

  2. i cry (well, a little).
    good luck, mate! kita masih muda, perjalanan masih panjang. jangan lupa pesta-pesta :”)
    ditunggu cerita-ceritanya, ya :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s