Books to Read: The Shallows, What the Internet is Doing to Our Brains


resensor.blogspot.com

Membaca The Shallows harus disertai kesabaran. Terlebih yang mengharapkan pembahasan soal internet sebagai sebuah medium. Ini karena Nicholas Carr berusaha untuk membuktikan dasar pemikirannya yang ia pinjam dari Marshall Mcluhan: medium baru memang “memperkuat” anggota badan kita, tapi pada akhirnya juga menumpulkan “yang diperkuat” itu; dalam hal ini otak manusia. Dan itu dilakukan lewat mempelajari serangkaian hasil riset dan penelitian terbaru soal kinerja otak manusia.

Dalam buku ini, Carr mengutip puluhan buku, jurnal ilmiah dan artikel yang coba membuktikan satu hal: struktur otak kita dapat berubah karena rangsangan eksternal, dalam kasus ini, oleh internet. Kutipan akan bisanya struktur otak berubah internet sangatlah penting bagi Carr untuk meyakinkan pembacanya, bahwa internet sebagai sebuah teknologi, bukanlah seperti adagium populer, hanyalah sebuah alat (merely a tool). Ia tidak pernah adalah sebuah alat yang bisa kita gunakan lalu tak berdaya ketika kita singkirkan. Sebaliknya, setiap teknologi baru, seperti kata Mcluhan, mampu mengubah kita.

Tapi sabar sebentar bagi pencinta teknologi, Carr bukan menulis buku murahan yang cuma ingin mengatakan: buang teknologi dan kembali ke romantika masa lalu. Tidak. Ia menawarkan argumentasi, yang mau tidak mau harus kita pikirkan sedalam-dalamnya, akan hakikat kita sebagai manusia, dihadapan kuasa teknologi yang terus menerus menguasai keseharian kita.

Sesuatu yang Berubah

Penelusuran Carr, yang kelak membuat bukunya dinominasikan untuk Pulitzer Kategori Non-Fiksi 2011, bermula dari adanya perubahan yang ia rasakan. Ada sesuatu yang mengutak-atik otak dan memetakan kembali sirkuit saraf, serta memprogram ulang memorinya (hal.1). Ia yang dulu mudah tenggelam dalam buku dan menghabiskan berjam-jam untuk membolak-balik lembaran prosa, kini menemukan dirinya sulit untuk berkonsentrasi, kehilangan fokus, dan gelisah waktu membaca 1-2 halaman. Ini, duga Carr, karena selama dekade belakangan ia menghabiskan waktu untuk online, mencari informasi di Google, mengklik hyperlink yang ada di satu halaman situs dan sebagainya. Dan ia tidak sendiri, kenalannya, Scott Karp, seorang blogger, mengakui ia sekarang telah berhenti membaca buku sama sekali.

“Dulu saya orang yang gila baca,” kata Karp. “Kini saya hampir kehilangan kemampuan membaca dan menyerap artikel yang agak panjang di web maupun media cetak.”

Seorang yang lain, Bruce Friedman, blogger sekaligus ahli patologi di Fakultas Kedokteran University of Michigan, mengalami hal serupa.  “Saya tidak lagi bisa membaca War and Peace (salah satu karya Magnum Opus Pujangga Rusia, Leo Tolstoy-red),” aku Friedman. “Saya telah kehilangan kemampuan untuk itu. Bahkan tulisan di blog lebih dari tiga atau empat paragraf sudah terlalu banyak untuk diserap. Saya hanya memindainya.”

Dari sini mulailah penelusuran Carr akan penelitian-penelitian terbaru soal kinerja dan struktur otak. Presentasi Carr soal sinapsis, neorutransmiter, akson, dendrit, hipokampus, dan semacamnya, memang cukup sulit dan membosankan bagi yang tidak menyukainya. Namun itu penting, seperti yang ditulis diatas, untuk membuktikan bahwa Internet, yang kita konsumsi sehari-hari, ikut merubah dan memberikan pengaruh kepada otak kita, yang disimpulkan dalam judul bukunya, menjadi dangkal.

Seperti pemikiran Mcluhan, sementara Internet “memperkuat,” ia melatih kita melakukan multi-tasking, cepat & instan. Pada akhirnya ia akan “melemahkan” otak kita dalam melakukan pemikiran mendalam, fokus dan perhatian, serta kreativitas. Dan, kekhawatiran terbesar Carr, kemanusiaan kita.

Bayangkan sebuah skenario. Jika reminder di ponsel membuat kita tidak lagi menghapal nomor telepon dan ulang tahun kerabat kita. GPS membuat kita tidak lagi repot (bisa?) menghafal jalanan di kota kita. Dan ini semua berdampak pada struktur dan kinerja otak kita. Ketika internet, dengan segala kemajuannya pada dekade mendatang, menguasai kehidupan kita, dampak apa yang akan dibawanya?

Carr menulis soal berita kecil yang ia baca di koran pada akhir 2009, tentang lembaga penguji pendidikan terbesar di Inggris, Edexcel, yang mengumumkan bahwa mereka memperkenalkan “sistem  penilaian esai yang terkomputerasi.” Yah, sebuah esai. Pihak Edexcel menyebutkan sistem tersebut “menghasilkan akurasi penanda-penanda manusia sekaligus mengurangi unsur-unsur manusiawi seperti kelelahan dan subjektivitas.” Kini, kalau Carr melihat aplikasi Siri di iPhone, tampaknya ia akan menyadari bahwa ramalannya mungkin tepat, dan lebih cepat dari yang diperkirakan.

Charlie Brooker dalam tulisannya di koran The Guardian, menuliskan dengan baik ketakutannya akan Siri. Hari ini Siri, esok kita mungkin berbicara dengan mobil, dan ketika tua, mungkin dengan semacam sintesis imitasi dari orang-orang yang kita sayang, tulis Brooker. Kehidupan seperti Surrogates yang dibintangi Bruce Wilis mungkin saja terjadi, kalau mengingat 10 tahun yang lalu orang mungkin mentertawakan ide bermain game di toilet. Dan sekarang kita punya video game yang diinstall di urinal yang dimainkan dengan mengalirkan urine kita ke kiri dan ke kanan. Baca lagi dan pikirkan sendiri apakah kita hidup di masyarakat yang waras, kata Brooker.

Things Can’t Just be Undone, Easily.

Yang menarik, dalam satu bab Intermeso-nya, Carr mengakui bahkan dirinya pun tidak bisa melarikan diri dari pengaruh teknologi Internet, termasuk dalam menulis buku ini. Ia harus menghabiskan musim panasnya di sebuah kota pinggiran di Pegunungan Colorado. Tidak ada layanan telepon seluler, akun Twitter dan Facebook yang dinonaktifkan, dan terpenting, membatasi penggunaan aplikasi e-mail. Namun, godaan untuk melanggar hal yang ia tetapkan sendiri begitu besar (hal. 211). Kini setelah bukunya selesai, ia kembali ke kebiasaannya. E-mail yang terus aktif, menonton YouTube, memasang RSS feed dan sebagainya. Ia akui, ia tidak tahu apa bisa hidup tanpanya.

Carr menutup buku ini, dengan sebuah paragraf tentang ramalan gelap pembuat film legendaris, Stanley Kubrick: Ketika kita mulai bergantung pada komputer untuk menjadi perantara pemahaman kita tentang dunia, kecerdasan kita sendirilah yang berubah menjadi kecerdasan buatan.

Dan itu sudah seharusnya jadi peringatan bagi kita.

 
 
Judul Buku: The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains
                        (The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?)
Pengarang: Nicholas Carr
Penerjemah: Rudi Atmoko
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Juli 2011
Tebal buku: 279 Halaman
Harga: Rp 52.000,-

2 thoughts on “Books to Read: The Shallows, What the Internet is Doing to Our Brains

  1. hari, resensi bukunya bagus deh.. suka gw baca tulisan lo yg ini..
    bkin gw tertarik baca bkunya jga..
    tp kurang pandangan lo..masa cuma di kalimat terakhir sih har.. hehe..

    btw, bakat jd peresensi bku lo kayaknya, lanjutkan anak muda!😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s