Christmas, It’s Continued..

It was a tough Christmas for me. Mungkin karena ini pertama kali melewati Natal dengan tuntutan deadline pekerjaan sebagai jurnalis. Bisa jadi karena harus mengikuti konferensi akhir tahun tentang teologi Kekristenan selama 3 hari penuh. Juga mungkin karena pertengkaran demi pertengkaran akibat egoisme pribadi yang menghiasi Natal tahun ini. Atau, sederhananya, karena kekurangan dan keteledoran diri sendiri yang sembrono.

Bagaimanapun, saya senang juga. Sebulan lalu, saya cetuskan ide untuk ke beberapa orang yang setau saya suka menulis, untuk memeriahkan Natal  dengan..tentu saja tulisan! Tapi pertanggungjawaban ada di saya karena hanya mencetuskan, tanpa mengarahkan lagi, mungkin karena alasan-alasan di atas. Apapun.

Jadi pagi ini saya akhirnya bisa membuka internet, dan melihat beberapa orang menyumbangkan tulisan mereka untuk Natal kali ini. Saya menikmatinya, demikian saya harapkan semua yang membaca posting ini.

Seorang pemuda 17 tahun berbadan tinggi besar. “182 cm ko,” jawabnya waktu saya tanya tinggi badannya. (sejujurnya saya agak lupa detailnya, tapi percayalah, ia sangaat besar. Joseph, namanya, yang begitu tergila-gila dengan Hayley William, vokalis dari Paramore sehingga ia buat akun palsunya, dan merubah status FB-nya menjadi “in a relationship” dengan akun palsu ini. -.-” Ia menulis tentang Natal dan Hadiah-(Nya) dengan cara yang jenaka dan unik, seperti tulisan-tulisan nya yang lalu. Tulisan ini mengingatkan, bahwa pesan yang penting, terkadang bisa disampaikan dengan cara yang jenaka. Bravo Joseph.

Phillip Febrian adalah pemuda yang kalem dan tenang. Ia tidak meledak-ledak dan berusaha mengatur cara bicara dan ekspresinya setenang mungkin, setidaknya itu dugaan saya. Setau saya, ia mempelajari biola dan juga melukis, mungkin ketenangannya didapat dari sana, atau mungkin sebaliknya. Un journal c’est un monsieur, koran itu bersosok, kata orang Perancis. Sedikit modifikasi, tulisan itu bersosok. Dan tulisan Phillip mencerminkan sosoknya, tenang dan lembut. Dalam tulisan berjudul Tell a StoryIa bercerita tentang seorang pria yang kecewa, kata yang menurut saya pas untuk mewakili perasaan banyak diantara kita, dan pertemuannya dengan pengharapan Natal itu sendiri. Great writing, Phillip.

Ia mungkin adalah yang tercantik dari semua orang disini. Selain karena memang Heidy Angelica adalah perempuan satu-satunya  yang  turut menyumbangkan tulisan Natal kali ini. Tulisan sederhana Natal 2011, seperti juga banyak tulisan-tulisan lain di blognya, menurut saya, mencerminkan kesungguhan dan kejujuran menghadapi Natal. Dan bukankah kedua hal itu yang paling sulit kita lakukan di hari Natal? Salute, Heidy.

Adolf Raja Martua adalah anak yang baru menginjak bangku SMA dan bercita-cita menjadi, entah tentara atau politikus. Ia telah ikut klub jurnalistik dari semenjak SMP 2. Sebagian mungkin karena ia berminat, sebagian mungkin karena kewajiban. Ia anak yang pintar dan cerdas. Dan ia menganggap serius tulisan kali ini, Arti Natal, sehingga membuatnya terlihat lebih sebagai sebuah tugas dibanding festival, tulisan yang memeriahkan. Tetapi tetap sangat layak dibaca. You’ll be a great man someday, Raja.

Rumit barangkali cocok juga untuk mendeskripsikan Stephen Pratama. Ia seorang yang berbicara dengan sangat cepat dan seringkali, mengikutkan istilah-istilah medis soal otak–yang adalah, anehnya, hal kesukaannya. Tapi walau agak nakal dan kerapkali sinis terhadap dunia, seperti sering tercermin dalam tulisan Natalnya, Kado Bahagia dari Sinterklaus, dan juga tulisan-tulisan lainnya, tapi deep down inside, saya pikir ia orang yang baik hati. Keep the spirit, Pratama.

Dan saya sangat tersanjung, karena  salah seorang paling brilian yang pernah saya kenal, Robin Hartanto, ikut menyumbangkan buah pikirnya, Palungan, untuk Natal kali ini. Bersama dengan dia, dan harus saya akui sumbangsihnya jauh lebih besar, kami memenangi satu lomba esei nasional ketika masih SMA, ini satu peristiwa penting yang ikut menguatkan niat saya mempelajari jurnalistik di kuliah nanti. Seorang mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia, he’s probably the best student right now to speak about it. Dan itu tercermin dari tulisannya yang memandang Natal dari kacamata arsitektur. Simply briliant, bang.

Terakhir, tulisan, yang sayangnya agak menyedihkan dari saya, A Night Before Christmas. Jauh dari standard yang saya harapkan sendiri. Saya heran juga tulisan ini bisa selesai, dan jujur, rasanya ingin saya delete seketika setelah saya posting. Tapi semoga tetap bisa dinikmati.

Apapun, baik tulisan-tulisan luar biasa dari rekan-rekan ataupun tulisan saya yang begitu buruk, semoga kata-kata yang tertuang dari kami semua, boleh menjadi pemeriah suasana Natal tahun ini. Dalam setiap kesederhanaannya. Tulisan-tulisan ini tentu jauh dari layak untuk diumpamakan sebagai sebuah cahaya yang menerobos kegelapan. Klaim semacam itu tidaklah lebih dari sebuah kesembongan yang amat sangat. Namun semoga, spirit seperti yang dimaksud Rasul Yohanes dalam Injil Yohanes, karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal, tercermin dalam setiap kata-kata yang dituliskan. Tulisan dengan semangat kasih yang mau berkorban untuk orang lain.

 

Sekali lagi, Selamat Natal!

🙂

One thought on “Christmas, It’s Continued..

  1. wow…great conclusion for this christmas….aku senang deh bacanya, dan bener2 mewakili karakter dan tulisan sang penulis artikel….Good job klub jurnalistik!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s