Don Quixote, Sebuah Ironi

Don Quixote pastilah tidak terlalu peduli omongan dewasa ini yang menganggap dia gila dan konyol. Atau seorang idiot dibanding ksatria. Toh, ia tetap jadi pujaan kaum romantik. Bagi mereka, Quixote adalah idealis yang cita-cita kepahlawanannya begitu luhur.

Atau, begitulah mereka pikir.

Awalnya, nama Quixada dirasa kurang cocok untuk cita-citanya menjadi ksatria. Maka mulailah ia memperkenalkan diri sebagai Don Quixote dari La Mancha. Baju zirahnya warisan sang kakek, sudah rapuh. Ketopong kepalanya sudah rusak sebagian. Tak masalah, karena karton cukup bagi Don Quixote untuk menambalnya. Penasaran, disabetkannya sebilah pedang untuk menguji keampuhannya. Sudah barang tentu hancur berantakan. Terpaksa ia buat sekali lagi, kali ini tak usahlah diuji keampuhannya, daripada hancur lagi.

Banyak kekonyolan demi kekonyolan dilakukan Don Quixote. Yang paling diingat tentu adegan Don Quixote berhadapan dengan kincir angin. Ia pikir ia melihat raksasa-raksasa. Langsung saja dihajar, sudah tentu tombaknya patah terkena samberan kincir angin. Don Quixote dan Rozinante, kudanya, cuma bisa pasrah terguling-guling terbanting, kalah telak lawan “para raksasa itu.”

Sancho Panza, hambanya (ksatria perlu seorang hamba, pikir Quixote, maka dibujuklah Sancho, lelaki desa miskin dan dungu, untuk menjadi abdi sang ksatria, dengan iming-iming akan dijadikan gubernur jika Quixote sukses kelak), hanya bisa melongo dan berteriak-teriak melihatnya.

Tapi tak mengapa, tak perlu bersedih, kata Don Quixote menghibur Sancho, beginilah risiko pertempuran bagi ksatria kelana. Tak boleh ia menyerah. Lain hari lain peruntungan, maka jangan luntur terhadap cita-cita.

Memang, kata Sindhunata, betapapun idiotnya Don Quixote, ia adalah orang yang pantang menyerah dalam mencapai cita-citanya, tak peduli pelbagai penderitaan dan cemooh yang didapat. Tak heran pembaca merasa kehilangan ketika si pengarang, Cervantes, menutup novelnya.

***

Don Quixote dan hasrat kepahlawanannya yang uedan, bagi Rene Girard, bukanlah karena adanya garis linear yang menghubungkan secara langsung Don Quixote sebagai subjek dengan kepahlawanannya sebagai objek. Ia ingin menjadi pahlawan, bukan karena kepahlawanan (objek) yang demikian memikat, bukan pula karena Don Quixote (subjek) yang menginginkannya. Tapi karena adanya Amadis, sang pahlawan pujaan yang jadi idola Don Quixote.

“Siapa yang ingin berjuang di bawah panji cinta dan kepahlawanannya, ia harus meniru Amadis,” kata Don Quixote. “Maka Sancho sahabatku, aku berpendapat, siapa saja meneladani Amadis dengan sempurna, ia akan dekat sekali pada kepahlawanan yang sempurna.”

Ahmadis adalah model yang memilihkan dan menentukan objek-objek dari hasrat Don Quixote.Mediator of desire, demikian istilah Girard, yang membuat Don Quixote dengan sukacita menyerahkan total hak-haknya pada Amadis.

Bukan subjek, tapi mediatorlah yang menentukan objek bagi subjek. Dan objek, yang dihasratkan subjek, terjadi dan ada karena penentuan dan pilihan mediator. Jadi subjek dan objek tidak berada dalam hubungan garis linear langsung, tapi garis segitiga, dimana hubungan antara subjek dan objek selalu harus melewati titik ketiga, sang mediator.

Karena mediator yang selalu menentukan dan memilahkan objek-objek bagi hasrat subjek, maka Girard menyebut hubungan segitiga itu sebagai hasrat segitiga (triangular desire)

Objek bisa berubah-ubah, tapi mediator tetap hadir dalam setiap perubahan itu. Don Quixote boleh menghajar karang anggur yang dipikir raksasa. Menghasratkan ember tukang cukur yang dikira ketopong dambaan ksatria, Mambrino. Atau menyabet kincir angin yang dipikir musuh berbahaya.

Demi dan karena Amadislah, Don Quixote lakukan semua kengawuran itu.

Dalam hasrat segitiga, Don Quixote bukan seorang idealis yang otonom, tapi hamba dari Amadis. Bagi Girard, kritikus romantik gagal menampilkan sistem kehidupan masyarakat dimana Don Quixote hidup, mereka juga terlalu terpukau denga nilai-nilai idealisnya sampai melupakan apa yang menjadi keprihatinan utama Cervantes.

Don Quixote selalu meniru Amadis, demikian Sancho selalu meniru Don Quixote. Amadis adalah mediator bagi Don Quixote, seperti halnya Don Quixote adalah mediator bagi Sancho.

Rupa-rupanya, Don Quixote, dan juga Sancho, hanyalah sekedar “korban” dari sebuah hasrat segitiga itu..

disclaimer: ini adalah sekedar re-writing dari bab 1 buku Kambing Hitam, Teori Rene Girard dari Sindhunata. Sebagian penjelasan adalah kutipan langsung dari tulisan Sindhunata.  

6 thoughts on “Don Quixote, Sebuah Ironi

  1. Good post. I learn something new and challenging on sites I stumbleupon every day.
    It’s always exciting to read through articles from other authors and practice a little something from their web sites.

  2. ulasan yang bagus, Mas🙂
    Saya baca dan pahami tulisannya untuk keperluan tugas kuliah saya tentang Kumpulan Sajak Don Quixote karya Goenawan Mohamad.
    Tks : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s