Bicara Emas

(Dimuat di Harian Kontan, Senin 27 Februari 2012)

Daya tarik emas sepertinya memang sulit pudar. Akhir pekan lalu, harga logam mulia ini kembali berlari kencang, bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam 3 bulan terakhir. Kondisi di Eropa yang relatif membaik dan ancaman inflasi akibat kenaikan harga minyak menjadi sebagian faktor pendongkrak harga emas sehingga semakin berkilau. Meski begitu, bagi yang berminat menjadikan emas sebagai investasi, harus pandai-pandai merencanakannya mengingat variasi investasinya begitu beragam, mulai dari menyimpan emas fisik seperti dinar, ataupun  emas batangan, hingga sistem berkebun emas.

Dari beragam cara mereguk cuan lewat emas, Perencana Keuangan sekaligus Direktur ZAP Finance, Prita Hapsari Ghozie, menyarankan agar investor bermain dengan cara biasa, yaitu membeli emas fisik secara rutin. “Pastikan selalu membeli emas yang bersertifikat Antam agar likuid dan harganya sesuai harga pasaran,” ujar Prita. Investasi emas batangan yang dikeluarkan oleh Antam bisa dibeli dengan satuan 1 gram hingga 1 kg. Sementara dinar adalah koin emas 22 karat dgn berat sekitar 4 gram yang hanya ada 1 jenis satuan.

“Jadi biasakan diri untuk membeli emas secara rutin, misalnya yang 10 gram,” tambah Prita. Selain itu, harus dipastikan bahwa kita punya tujuan finansial yang memang sesuai untuk menggunakan emas. “Misalnya tujuan investasi emas adalah untuk naik haji 5 tahun lagi, harus kita hitung biaya naik haji saat ini, lalu dengan proyeksi kenaikan harga, kita kalkulasi berapa biaya naik haji 5 tahun kemudiani,” jelas Prita. Nantinya biaya itu kita bagi dengan harga emas per gram, sehingga kita bisa tahu berapa jumlah gram yang kita perluk kumpulkan agar 5 tahun lagi bisa dijual dan mendapatkan uang tunai yang cukup untuk naik haji tersebut.

Sedangkan, beberapa metode seperti gadai emas dan berkebun emas dinilai Prita memiliki resiko yang harus diperhatikan. Gadai emas, jelas Prita, sebenarnya adalah proses meminjam uang tunai ke bank maupun ke pegadaian dengan agunan emas. Jadi, ada jangka waktu yang biasanya maksimal 4 bulan, dan atas pinjaman tersebut kita diwajibkan membayar biaya titip dan biaya administrasi. “Jadi, penting dipahami bahwa gadai emas itu bukan berinvestasi, melainkan meminjam uang,” jelas penyandang gelar Master of Commerce dari University of Sydney ini.

Sementara, berkebun emas adalah teknik gadai lalu beli yang dipelopori oleh Rully Kustandar. “Dia mengajarkan dengan cara menggadaikan emas yg dimiliki, lalu dana tunai hasil pinjamannya digunakan lagi untu membel emas kedua dan seterusnya,” ujarnya. Menurut Prita, teknik ini memang berpotensi memberi imbal hasil diatas rata-rata cara biasa. Namun, resikonya juga sangat besar. “Apalagi jika anda tidak bisa komitmen untuk rajin menyisihkan uang dari penghasilan tiap bulan dan juga jika anda harus membayar biaya titip yang sudah jatuh tempo, maka resiko bisa berlipat ganda,” tukas Prita.

Terutama untuk para investor pemula, konsep berkebun emas ini harus benar-benar dipahami dulu. “Saya membaca beberapa surat di media massa, ada beberapa nasabah yg merasa metode ini adalah penipuan. Padahal, metode ini bukan penipuan hanya saja ada resikonya, kebetulan si nasabah harus merasakan resiko negatif,” terang Prita.

Memang, secara umum pun investasi emas tetap mengandung resiko. “Bisa kita lihat dari fenomena harga emas yg melonjak Agustus 2011 lalu, namun kemudian sempat turun di bulan Oktober 2011,” papar Prita. Artinya, investasi emas memang tidak cocok untuk jangka pendek dibawah 1 tahun. “Investasi ini cocok untuk tujuan finansial antara 1 tahun hingga 8 tahun,” ujar Prita. Menurutnya, potensi return yang bisa diharapkan dari investasi emas bisa mencapai 15% setahun.

Selain itu, sebelum berinvestasi emas, Prita menyarankan agar investor sudah memiliki dana darurat dalam bentuk tunai di tabungan sebesar 1 kali pengeluaran bulanan. Lalu, harus dipaharmi bahwa investasi emas memang adalah untuk jangka menengah, sekitar 1-8 tahun. “Dulu saya merekomendasikan emas untuk tujuan diatas 3 tahun. Namun, dengan penurunan BI Rate, tabungan menjadi sangat tidak menarik sehingga emas dapat digunakan untuk investor berkarakteristik agresif untuk tujuan diatas 1 tahun,” pungkas Prita.

Senada, Rakhmi Permatasari, Perencana Keuangan pada Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk & Rekan juga menyarankan agar dalam berinvestasi emas, yang paling pertama adalah mengkoleksi emas fisik secara tradisional dengan membeli. “Jika kita sudah punya secara fisik dan ingin berinvestasi lebih lanjut, boleh dipertimbangkan cara lain seperti berkebun emas atau uang lain,” ujarnya. Alasannya, selain lebih aman, modal yang diperlukan relatif tidak terlalu besar.

Salah satu pilihan utama adalah membeli logam mulia dari Antam. “LM Antam bisa diterima lebih secara lebih luas,” ujar Rakhmi. Ini sedikit berbeda dengan dinar, lantaran bisa dikatakan komunitasnya cenderung lebih eksklusif. “Jika ingin investasi dinar, lebih baik jika bergabung dengan komunitasnya, sehingga masalah jual beli lebih mudah dan harga lebih terjaga,” katanya.

Soal resiko kehilangan, menurut Rakhmi sekarang ini sudah bisa diminimalisir. “Setahu saya ada bank yang menawarkan jasa penyimpanan dengan harga terjangkau, sekitar Rp 150.000 per tahun,” ujarnya.

Masalah keuntungan, dengan kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu, memang membuat imbas hasil emas cukup menjanjikan. “Berkaca dari sebelumnya, angka 20% bisa tercapai,” ujarnya. Namun tetap saja harus diwaspadai kemungkinan harga turun ataupun naik tidak terlalu besar jika kondisi ekonomi membaik.

Nah, jika memang sudah bisa mengkalkulasi dan siap menerima potensi resiko yang lebih besar, sah-sah saja jika ingin mencoba metode yang lebih rumit seperti berkebun emas. “Namun harus ingat itu adalah semacam investasi dengan cara hutang, resiko tidak kecil,” ujarnya. Selain itu, lama kelamaan modal yang diperlukan relatif cukup besar ketimbang membeli dengan cara konvensional.

Sementara untuk Bursa Berjangka, Rakhmi mengaku tidak terlalu merekomendasikan sebagai instrumen investasi jangka panjang. “Karena memang lebih untuk trading dan unsur spekulasinya besar. Dus, resikonya juga besar,” tukasnya.

Terakhir, menurut Rakhmi, yang perlu diperhatikan saat berinvestasi emas adalah mengenail kemampuan dan kondisi finansial kita pribadi. Menurutnya, semua orang memang perlu untuk memegang emas sebagai investasi, tapi masalah kuantitas adalah berbeda-beda bagi setiap investor. “Jangan sekedar ikut-ikutan orang lain karena melihat mereka berhasil,” tukas Rakhmi.

Tidak jauh berbeda, analis Nine Star Futures, Iwan Cahyo juga merekomendasikan investasi dalam bentuk emas fisik. “Bagi saya, itu lebih aman, serta likuiditasnya cukup tinggi,” ujar Iwan. Memang, aku Iwan, kekurangannya adalah butuh perhatian ekstra dalam segi keamanan, karena cukup rawan kehilangan. “Tapi menurut saya itu cukup sebanding dengan hasilnya,” kata Iwan. Soalnya, prediksi Iwan, hingga akhir tahun ini harga emas fisik berpotensi menembus $2.000 per ons tori (oz). “Maksimum bisa mencapai $2.200 per oz,” tukas Iwan.

Memang, meskipun ada kecenderungan untuk sideways, trend harga emas tahun ini masih cenderung naik. “Terutama karena dua kutub ekonomi, Eropa dan Amerika Serikat masih relatif rapuh, belum terlalu ada alasan kuat mereka bisa pulih betul,” ujar Iwan.

Lebih jauh, dari berbagai ragam emas fisik, Iwan menilai pilihan sebenarnya lebih ke selera. Namun, khusus untuk dinar, variabelnya menjadi dua unsur yaitu currency dan unsur emasnya sendiri. “Saya lebih cenderung menyarankan berinvestasi di emas murni saja seperti emas batangan,” tukas Iwan. Selanjutnya, menurut Iwan, jika emas secara fisik sudah kita pegang, baru bicara berinvestasi dengan cara alternatif seperti gadai emas ataupun bursa emas. “Intinya amankan dulu emas secara fisik,” pungkas Iwan.

One thought on “Bicara Emas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s