“Selingkuh” Dengan Investasi

Oleh: Harry Febrian

JAKARTA. Persentuhan Muhamad Alfatih, Vice President dan Senior Analyst Technical di PT Samuel Sekuritas Indonesia, dengan dunia investasi bisa dibilang kebetulan. Menghabiskan masa kuliahnya dengan berkutat di jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, Alfatih akhirnya “berselingkuh” ke dunia bisnis dan investasi yang digelutinya hingga sekarang.

“Boleh dikatakan saya ini ikut-ikutan trend kawan-kawan saya, pasalnya pada zaman-zaman kuliah, saya perhatikan berapa teman yang nilainya bagus justru tidak kerja di dunia arsitektur,” ujarnya. Melihat banyak rekannya yang justru bekerja di Citibank, IBM, bahkan perusahaan asuransi membuat pria kelahiran Ankara, Turki, ini mulai berpikir untuk mencari bidang pekerjaan yang lain. Namun ia sadar, jika memulai karir dari nol, sementara ia harus bersaing orang lain yang sudah memiliki modal dan dasar-dasar ilmu, tentu dirinya akan kalah.

“Makanya saya cari-cari bidang apa yang memang masih baru dan punya prospek cukup baik,” katanya. Pilihan pertamanya jatuh pada membuka kursus komputer bersama teman-temannya, karena saat itu, sekitar tahun 1986-1987, teknologi komputer tergolong bidang yang masih baru. Namun karena strategi bisnis yang mungkin kurang tepat dan margin keuntungan yang sedikit, usaha pertamanya hanya bertahan 1-2 tahun.

Kemudian, di akhir tahun 80-an ia mulai mencari-cari prospek usaha yang lain, dan tanpa sengaja melihat lowongan kerja sebagai seorang konsultan bisnis dengan iming-iming training di luar negeri. Sejak itu, dimulailah “perselingkuhan” panjang Alfatih dengan dunia investasi.

“Ternyata itu adalah lowongan dari perusahaan komoditi atau futures,” ujar Alfatih. Disana ia banyak mendapat training-traning soal dasar-dasar dunia investasi. Pengajarnya juga banyak memberikan motivasi-motivasi yang semakin mendorong ia untuk berkecimpung didunia ini. “Saya ingat seorang pengajar menegaskan kalau apapun profesi anda ujung-ujungnya pasti lari ke bursa. Dan kalau bisa kuasai ilmu di bursa, bisa menguasai semuanya,” kenang Alfatih.

Dari situ ia mulai menceburkan diri lebih dalam ke dunia investasi. Berbagai peran ia selami, mulai dari menjadi sales, diangkat sebagai manager, sempat jadi periset, hingga akhirnya dikirim untuk belajar analisis teknikal di Singapura, metode yang akhirnya lekat dengan dirinya hingga sekarang.

Setelah itu, co-founder dari Asosiasi Analis Teknikal Indonesia (AATI) ini kemudian mulai masuk ke perusahaan sekuritas, Wanteg Securindo, dan mulai sebagai floor trader. Saat itu di sudah mulai menjelang krisis moneter 1997-1998. Pernah juga, di awal-awal kerusuhan 98, ia tetap masuk kantor dan ternyata selain dirinya, hanya ada direktur dan sekretarisnya. Alhasil mereka bertiga yang mengurusi order dan input data hari itu. “Saat itu juga sudah mulai ada tanda-tanda kerusuhan. Ada komplek pertokoan yang dilempari batu dan mulai dibakar. Saya lalu pulang naik ojek dan cari-cari jalan lalu akhirnya selamat juga sampai dirumah,” ujar pria berusia 52 tahun ini.

“Melihat kebelakang, saya merasa sudah berada di tiga dunia. Mulai dari dunia arsitektur, futures dan akhirnya saham,” tukas Alfatih.

Ibarat Seorang Pelatih

Krisis moneter tahun 1998 yang menimpa Indonesia, bisa jadi merupakan salah satu pelajaran berharga tentang dunia investasi bagi Alfatih.”Saya melihat sendiri, kala itu saham Gajah Tunggal terpuruk hingga ke harga terendah di 25 rupiah. Banyak orang menjual tapi tidak ada yang berani membeli. Meskipun harga itu paling cuma seharga permen,” tukas Alfatih.

Akan tetapi, seorang rekan yang duduk tepat disebelah bangkunya meyakinkan kalau perusahaan itu sendiri masih beroperasi dengan baik. Pabriknya masih berjalan dan setiap hari tetap ada yang membeli. Alhasil, dalam waktu beberapa minggu kemudian, harga sahamnya naik hingga berlipat-lipat.

“Memang bisa dibilang krisis itu justru peluang-peluang untuk membeli,” ujarnya. Ia ingat, banyak tokoh-tokoh yang sekarang disebut konglomerat, justru pada waktu krisis itu mereka mulai masuk membeli saham-saham. Mengutip kata-kata dari Warren Buffet, ketika semua orang takut, itu adalah saatnya kita membeli. “Namun jujur, saya juga orang-orang, jadi saat yang lain takut, kadang saya juga takut,” ujarnya tergelak.

Secara pribadi, ia menilai dirinya lebih merupakan seorang invesor yang moderat. Pasalnya, sadar dirinya adalah anak pensiunan pegawai negeri, ia mengakui bahwa dirinya tidak mempunyai modal yang cukup besar. Alasan lainnya, ia juga tidak bisa selalu 100% didepan komputer, karena sewaktu -waktu harus melayani wartawan yang bertanya ataupun nasabah yang butuh bantuan. Ditambah lagi di tempatnya dulu juga ada semacam larangan untuk bertransaksi.

Ia pun menyebar portofolionya secara merata, mulai dari reksadana, emas, dan saham. Termasuk juga ke asuransi, karena dianggapnya sebagai hal yang penting. Memang, disadari jika uangnya digunakan untuk investasi di tempat lain, keuntungannya mungkin akan lebih besar. “Tetapi asuransi itu untuk menjaga diri terhadap hal-hal yang tidak kita inginkan. Kalau ada apa-apa, keuntungannya bisa lebih besar,” katanya.

Investasi, menurutnya, adalah hal yang penting karena bagaimanapun ia menyadari gajinya sebagai seorang karyawan bisa dibilang tidak akan membuat ia jadi jauh lebih kaya. “Karena itu supaya bisa berkembang makanya perlu investasi,” ujarnya. Meski begitu, jika menganalogikan dengan permainan bola, Alfatih mengaku lebih melihat dirinya sebagai seorang sosok pelatih ketimbang pemain.

“Seorang pelatih yang membantu rekan-rekannya dalam melakukan trading,” tukas Alfatih, tersenyum.

*Edited version of this writing will appear tomorrow (Saturday, March 10) on Kontan Daily. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s