What Kind of a Day is Today?

“What kind of a day is today?”

Tanya McCandlish Phillips, membuka tulisannya 43 tahun lalu. Ini soal penutupan eatery terkenal di Times Square. “It is the kind of a day that if you wanted a slice of cheesecake at Lindy’s, you couldn’t get it.” Jawabnya sendiri. Phillips seorang wartawan legendaris The New York Times di tahun 1950-an. Era dimana banyak darah muda di Times yang kelak sangat menonjol. Diantaranya, Gay Talase, David Halberstam, Gloria Emerson, J. Anthony Lukas, Richard Reeves. Konon, Phillips adalah penulis paling brilian.

Talase, sendirinya seorang legenda yang disebut Tom Wolfe sebagai pioner cikal bakal New Journalism, memberi pujian selangit untuk koleganya itu. “There was only one guy I thought I was not the equal of, and that was McCandlish Phillips.” Sayang, bagi banyak rekan, Phillips akhirnya membuang semua itu dan malah menjadi pendeta. Perjalanan ini digambarkan agak suram oleh Ken Auletta di The New Yorker. Ia juluki Phillips, sekaligus untuk judul tulisannya, The Man Who Disappeared.

Pertanyaan yang sama melintas ketika melihat kalender kecil yang tergantung dekat tangga dalam rumah di Cengkareng. Itu sebuah kalender biasa saja. Macam yang kita dapat cuma-cuma dari perusahaan sebagai alat promosi. Kalender gantung dari plat kaleng dengan kertas tebal yang tiap lembar menunjukkan satu hari dengan angka besar berwarna hijau–yang saat libur berganti warna merah–Ketika 24 jam berlalu, kertas dirobek, dan angka baru menunjukkan hari telah berganti. Sebagai pelengkap agar adil, di bawah tanggal besar dalam hitungan Masehi, ada kolom kecil dibawah yang menunjukkan hari dalam sistem lain: Arab, Tiongkok, dan Jawa. Plat segi empat tempat menempelnya kertas, jadi media untuk menunjukkan siapa pembuatnya. Yang ini, kalau tak salah, dari sebuah pabrik di bilangan Menceng milik kerabat.

Tidak ada yang istimewa. Kecuali, angka besar yang tertera di lembaran terdepan yang menunjukkan, tanggal 1 Juni.

“What kind of a day is today?”

Di pojok kanan layar komputer jinjing ini, tertulis 7/14/2012. Tapi ini tidak melulu soal waktu. Hari ini adalah hari dimana rumah
lama yang agak tua, kembali jadi semacam L’abriThe Shelter. Atau dalam bahasa Indonesia, Naungan. Enam minggu tentu bukan waktu yang sebentar, walau tidak juga lama. Sambil berusaha mengingat, apa yang terbentang di antara hari pertama Juni dengan minggu kedua Juli. Dan disclaimer, ini bukan soal muluk-muluk penyelamatan dunia atau cerita manusia berbakat besar macam Phillips. Ini hanya tentang seorang biasa yang, kebetulan, juga menghilang.

Diantaranya mungkin ada berkendara dengan sepeda motor sok-sok vespa di Arteri Pondok Indah sampai Jalan Raya Bogor. Duduk di mobil, menempuh Cibubur-Cikarang-Cengkareng-Bintaro seharian tanpa sempat mandi. Menuliskan berita utama dalam perjalanan arah Puncak sambil menyiapkan plastik kresek untuk jaga-jaga ingin muntah karena mabuk mengetik sambil diguncang jalanan tidak rata. Tidur di lantai rumah sakit yang dingin di simpang Kebon Jeruk beralaskan kantung tidur. Terjaga pukul tiga dini hari teringat kamu. Membaca surat kabar di teras rumah kontrakan di Cibubur sambil ditemani yang nampaknya begitu paradoks: kicauan burung-burung yang terbang bebas dan raungan mobil di ujung jalan tol yang tersamarkan dedaunan yang lebat. Bercakap-cakap dengan sahabat di masa kini soal masa lalu, sekaligus masa depannya. Berada di Serpong mengurus soal studi lanjutan. Diskusi dengan seorang jurnalis yang diminta menulis opini di harian yang sama tempat Phillips bekerja–omong-omong, bayaran satu tulisan itu bisa sekitar 2500 Dollar Amerika, atau sama dengan dua sepeda motor sok vespa-vespa tadi.

Dan paling banyak: waktu-waktu susah maupun senang, sebagai satu keluarga.

“What kind of a day is today?”

Mungkin tidak nyambung, tapi sudut layar yang sama menunjukkan pukul 22:28. Ini malam yang hening, walau sesekali dirusak oleh suara knalpot motor yang sengaja dibuat rombeng agar ketika si pengendara–yang mungkin hatinya juga agak rombeng–memutar gas, keluar pula suara yang tidak kalah rombeng. Kali ini tidak ada sok-sok vespa, plastik kresek, suratkabar, Dollar Amerika, kantung tidur, kicau burung.

Tapi satu yang tetap, waktu-waktu sebagai satu keluarga.

Walau matahari belum terbit, hari tidak melulu soal malam yang kelam tanpa bintang. Begitu dengan hidup, walau senang belum paripurna, tapi susah mulai berlalu. Di bawah, dua berbaring tenang. Ruangan sebelah, dengan caranya sendiri, satu menikmati malam. Agak jauh di timur sana, tiga sedang menghabiskan waktu bersama. Disini, duduk bersandar memainkan tuts komputer jinjing. Omong-omong juga, kalendar tadi akhirnya sudah disobek. Lumayan tebal lembaran yang harus dibuang. Mungkin perlu sepuluh kali merobek. Tapi sekarang, kalender itu sudah menunjukkan waktu yang sesuai. Dan ini berarti sudah bersiap menyambut hari esok: 15 Juli, dengan tinta merah besar pertanda libur.

“What kind of a day is today?”

Jawabannya pasti beragam, tapi mohon ijin untuk berbagi jawaban dini hari ini. “It is the kind of a day that makes you realize, that family, is everything in this world,”

Bonne nuit..

Cengkareng, 00:24

3 thoughts on “What Kind of a Day is Today?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s