taliban

Bagi saya, mulanya adalah Tanjung Priok. Kemudian banyak lagi di tengah perjalanan, mulai dari seorang kawan di pinggiran Jakarta sampai Malala di Pakistan. Ini soal hati sempit penuh dengki yang menutup diri dengan jubah suci dan mahkota intelektualitas, lantas berlagak macam Tuhan dan menghadirkan teror.

Ia hadir tanpa pandang bulu. Tak peduli di masjid, gereja, atau kuil. Ia juga tak sungkan berada di tempat paling terdidik. Di Timur Tengah, Ia berwujud orang-orang rela meledakkan diri, sekedar untuk menghabisi yang lain. Di katedral tua nan megah, Ia seorang pemuas nafsu yang memangsa anak-anak kecil tak bersalah. Di gereja, Ia bisa hadir lewat apa saja yang dianggap suci. Ia bisa membawa teror dengan cara apa saja. Ia membunuh, tak harus dengan senjata, tapi juga kata-kata. Melukai, tidak saja dengan pedang, tapi lewat khotbah. Merusak, dengan batu, tapi juga buku dan diskusi teologis.

Ia sesuatu yang irasional, bahkan delusional. Dengan mendompleng nama allah, Ia ingin merampas semua kemanusiaan kita. Ia benci segala yang berbeda dan bukan dirinya. “Sesat!” adalah label paling mudah untuk menghakimi mereka yang diluar dia. Ia boleh mengkritik, tapi jangan berani melakukan yang sama kepadanya karena Ia ingin berkuasa atas yang lain. Betul kata Voltaire, “to learn who rules over you, simply find out who you are not allowed to criticize.”

Sebagian bilang, jangan bicarakan soal Ia. Itu tidak membawa apapun, kecuali konflik lain. Barangkali betul. Tapi yang menjadi masalah: Ia akan terus berbicara dan mendominasi percakapan kita dengan kebencian, tak peduli kita bersuara atau tidak. Jika begini, apakah diam adalah sebuah jawaban?

Nah. Tidak.

Untuk megalomaniak yang berlagak tuhan ini, cuma ada satu kata, meminjam penyair Widji Thukul: Lawan!

Lawan. Meski barangkali resikonya dihilangkan, seperti Thukul sendiri, yang setelah belasan tahun sampai sekarang entah ada dimana. Hidup atau mati. Atau barangkali tidak sedramatis Thukul, karena kita bukan dia, dan tidak seberani dia. Dan itu sesuatu yang wajar. Dan jangan salah, ini memang bukan soal gagah-gagahan. Tapi masalah hati nurani yang Tuhan beri.

Suka atau tidak, Ia ada disekitar kita. Dalam skala yang barangkali jauh lebih kecil. Tapi tetap, Ia ada.

Pertanyaannya adalah, apakah kita ada?

One thought on “taliban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s