Steve Jobs

source: forbes.com
source: forbes.com

Mari kita jujur. Sebuah biografi biasanya mudah untuk dibaca, karena isinya melulu kebaikan dan kesuksesan pribadi yang ditokohkan. Apalagi jika inisiatif datang dari si tokoh sendiri. Agar narasi tidak terlalu datar, kadang memang diceritakan kesulitan dan kesalahan si tokoh. Tapi tentu itu akhirnya hanya sekedar bumbu untuk memperlihatkan kehebatan. Tidak haram juga sebetulnya. Hanya ujungnya, kita mendapat penggambaran yang sangat satu dimensional. Kurang manusiawi.

Beruntung, bukan itu yang kita dapat dari seorang Walter Isaacson, penulis biografi Steve Jobs. Ia ini seorang jurnalis veteran yang pernah menjabat sebagai Chairman dan CEO dari CNN serta Managing Editors majalah Time. Tahun 2004, Jobs menelepon Isaacson untuk menulis biografi hidupnya. Ia menolak. Isaacson telah menulis biografi tokoh raksasa macam Benjamin Franklin dan Einstein. Tapi seorang Steve Jobs? “Bukan sekarang waktunya. Mungkin satu dua dekade kedepan,” jawab Isaacson.

Butuh setidaknya lima tahun dan informasi Laurene Powell–istri Jobs–soal kanker yang diderita pendiri Apple ini, untuk membuatnya resmi setuju menulis sebuah biografi. Yang mengejutkan: Jobs tidak akan ikut campur soal isinya, termasuk jika Isaacson mewawancarai bekas teman, musuh, ataupun orang-orang yang membenci Jobs. Hanya satu hal–yang sangat khas Jobs–yang Ia minta terlibat: memilih design sampul bukunya.

Maka yang kita dapat dari buku ini, boleh dibilang: journalism at its best.

Isaacson melakukan lebih dari 40 wawancara ataupun bincang-bincang dengan Jobs. Selain itu, saya catat ada sekitar 57 karakter yang muncul dalam buku ini. Masif. Dan setiap cerita, setiap pengakuan, dibandingkan lagi dengan wawancaranya dengan puluhan kerabat, rekan, atau saingannya itu.

Ambil contoh perseteruan Jobs dengan Jeffrey Katzebnerg soal ide film animasi tentang serangga A Bug’s Life karya Pixar. Ketika DreamWorks, tempat Katzebnerg bekerja merilis lebih dulu animasi dengan tema serupa, Antz, Jobs menuduhnya mencuri ide. Namun tepat setelah paragraf dari sisi Jobs, Isaacson memberikan versi lain dari Katzebnerg. Kadang, jika Jobs memang salah dalam menceritakan atau mengingat, Isaacson tidak segan untuk menuliskan itu di dalam kurung atau pada kalimat lainnya. Berwarna sekali.

Tidak hanya kaya dimensi, buku ini juga penuh detail menarik soal hidup seorang Steve Jobs. Siapa sangka misalnya, kegilaan Jobs akan desain (akan banyak sekali ditemui dalam buku ini, mulai dari urusan jeroan Machintos, toilet kantor dan sebagainya), tidak luntur waktu Ia sedang terbaring di rumah sakit. Pernah sekali, ketika Ia telah dibius dan pulmonolog (seorang yang mendalami masalah pernapasan) ingin memakaikan masker, Ia tiba-tiba menepis dan mengomel betapa Ia benci desain masker itu. Walau sulit bicara, Ia minta lima jenis masker yang berbeda untuk dipilih. Ia juga sebal dengan desain monitor oksigen dan menyarankan desain yang lebih sederhana.

Selain itu, ada satu cerita yang saya suka. Ini soal kegemarannya pada Yo-Yo Ma, cellist masyur itu. Ketika Jobs akan menikah, Ia meminta Ma untuk membawakan lagu. Namun Ma menolak karena Ia sedang tur keliling dunia. Sampai beberapa tahun kemudian, Ma berkunjung ke rumah Jobs dan membawakan Bach dengan Cello Stradivarius tahun 1733. Lagu ini, kata Ma, adalah lagu yang akan dia bawakan di pernikahan Jobs seandainya Ia bisa hadir. Jobs menangis. Permainan musik Ma, balas Jobs, ialah argumen terkuat soal Tuhan, karena ia tidak percaya jika hanya manusia saja bisa melakukan itu. Belakangan, Jobs meminta Ma untuk bermain di pemakamannya. Dan Ma lakukan.

Suatu kali, penulis Malcolm Gladwell pernah menyinggung keterbatasan menulis sebuah profil.”Seorang manusia jauh lebih kompleks ketimbang profil yang bisa kita hasilkan,” katanya. Meminjam kosakata psikologis, Ia membedakan antara sample dengan signature. Contohnya, musik dari the Beatles. Seorang hanya butuh lima detik untuk mengidenfikasinya. Karena musik mereka memiliki signature, hanya dengan irisan tipis kita bisa menangkap kualitas yang sangat intens. Segala sesuatu diluar itu hanya sekedar sample.

Dan saya berani bilang, Walter Isaacson berhasil menghadirkan signature seorang Steve Jobs dengn baik. Kombinasi dua tokoh ini menghasilkan narasi yang memikat. Saya lupa namanya, tapi seorang penulis yang barangkali setengah berkelakar pernah berucap kurang lebih begini soal buku Isaacson: “Lagi-lagi Steve Jobs berhasil. Seperti sebelum-sebelumnya, Ia sukses memilih rekan. Dan menciptakan lagi, produk Apple yang luar biasa”

Pujian yang tidak berlebihan, saya kira.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s