Robohnya Gereja Kami

Anggota jemaat gereja HKBP Setu mencegat alat berat yang akan dipakai merobohkan geraja mereka di Tamansari, Setu, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (23/3). Sebanyak 270 personel kepolisian Bekasi disiagakan mengamankan eksekusi pembongkaran oleh pemda setempat terhadap Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Setu. Foto: Antara/Paramayuda

Haji Ali Akbar Navis tentu bukan seorang sinis, apalagi bodoh. 22 buku, 8 antologi luar negeri plus 106 makalah sastra untuk kegiatan akademis dalam maupun luar negeri tampaknya sulit dihasilkan tanpa kreativitas maupun intelektualitas. Tak mungkin juga orang semacam Syafii Maarif ataupun mantan Menteri Agama Tarmizi Taher datang melayat ketika AA Navis telah tiada, jika Ia bukan orang diperhitungkan di Indonesia.

AA Navis seorang sastrawan besar Indonesia. Sebagai penulis, namanya harum di dalam dan luar negeri. Tahun 1975, lewat kumpulan cerpen, Jodoh, Ia memenangi sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldemproep. AA Navis juga dianugerahi hadiah Sastra Asean/SEA Write Award pada tahun 1994. “Soalnya, senjata saya cuma menulis,” kata AA Navis satu ketika. AA Navis memang perlu senjata. Ia butuh itu untuk melawan elite korup yang sangat Ia benci. Saking geramnya, konon ketika disuruh memilih antara kekuasaan atau menulis, yang AA Navis pilih: kekuasaan. “Untuk menyikat semua koruptor,” begitu alasan AA Navis. Namun toh AA Navis tetap menulis. Barangkali memang karena Ia tidak pernah punya kuasa macam itu. Paling banter, Ia jadi Pemimpin Redaksi di Harian Semangat, Padang.

Maka waktu Ia menulis cerpen masyurnya, Robohnya Surau Kami, tentu ada sesuatu. Ia asli Minang, juga seorang saleh. Ia pasti menyayangi ajaran agama, karena itu Ia menunaikan ibadah yang membuatnya menjadi seorang Haji. Saya tak ingat kapan pertama membaca Robohnya Surau Kami, nampaknya lebih dari 10 tahun lalu ketika masih sekolah dasar, entah kelas tiga atau empat. Saya ingat suka membaca cerita-cerita di buku pelajaran Bahasa Indonesia. Waktu itu biasa saja. Mungkin masih terlalu kecil untuk bisa menghargai karya sastra besar.

Tetapi waktu Tempo memilih judul Robohnya Gereja Kami untuk melaporkan penghancuran Gereja HKBP Setu di Bekasi, saya merasa mendengar elegi yang mengiringi kematian kebebasan beragama di Indonesia, negeri yang katanya tetap satu meski berbeda-beda.

Mari kita jujur.

Ini bukan masalah hukum macam ijin mendirikan bangunan. Toh, ketuk palu lembaga hukum paling tinggi dan paling hormat Mahkamah Agung soal sah-nya Gedung GKI Yasmin, Bogor dianggap angin lalu. Dan orang-orang yang sekedar ingin menyayangi ajaran agamanya, harus duduk memohon tanpa pernah diacuhkan di depan Istana Presiden yang megah itu. Ini soal kebencian model taliban yang gerah melihat perbedaan. Ratusan orang berjubah yang gemar mengancam dan memuaskan nafsu merusak. Dari mana mereka tak ada yang tahu.

“Sudah belasan tahun kami kalem-kalem saja sama gereja. Enggak tahu itu orang mana yang ribut-ribut,” kata Nasir, warga sekitar yang diwawancara Metro TV.

Saya khawatir teriakan kebencian penuh amarah para taliban ini ditanggapi sepi saja. Padahal angka yang ada sudah mengkhawatirkan. Wahid Institute mencatat kasus intoleransi beragama terus meningkat. 121 kasus pada 2009, terus naik menjadi 274 di 2012. Lebih dari dua kali lipat dalam tiga tahun. Jangan salah. Ini bukan soal membela satu agama ketimbang yang lain. Ini soal memutus roda kebencian yang akan terus bergerak sekali disentuh. Sekarang gereja di Bekasi, di tempat lain Masjid Ahmadiyah, Tasikmalaya di porak-porandakan. Di Sampang, giliran pesantren Syiah dibakar. Masjid di Kupang diruntuhkan. Patung Buddha di Tanjung Balai dipaksa untuk diturunkan. Komplit.

Saya tak paham. Sebegitu lemahnya kah iman kita, sehingga ketika ada gedung dan patung yang mati, kita ramai-ramai ingin hancurkan dan bakar. Saya ingat suatu kali, penyair Goenawan Mohamad pernah menyinggung soal ini. Iman yang diproteksi oleh kolektivitas dan institusi-institusi adalah iman yang makin lebih rapuh, katanya. Barangkali Ia betul, kita takut pada iman yang sendiri, iman yang seperti suluh di jalan yang gelap. Karena itu kita perlu berlindung dibalik kebencian macam taliban yang doyan main ancam dan hantam. Padahal iman yang berani menempuh gelap dan kadang-kadang terancam padam itu, lanjut Goenawan Mohamad, adalah iman paling kuat bagi kita yang lemah ini.

Jika dalam Robohnya Surau Kami, AA Navis menyebut, moral cerita ada pada penjaga surau yang seolah nampak sangat agamis, tapi sebenarnya cuma mementingkan diri sendiri. Saya berandai-andai, jikalau bisa bertemu AA Navis di sana nanti, apa penyebab yang akan beliau tulis soal ini.

Soal robohnya gereja kami.

3 thoughts on “Robohnya Gereja Kami

  1. saya merasa sejalan dengan apa yang kamu pikirkan. sy harap yg memberi komentar kamu bukan hanya mengomentari sang AA Navis saja, tapi lebih memetik makna dari tulisan kamu.
    salam

  2. Wah…. AA Navis…. salah satu penulis favorit gue…
    Dulu jaman SMP gue baca tulisan “kemarau” nya AA Navis. dan itu keren banget… trus gue disuruh ama guru BI utk baca novel robohnya surau kami… dan ga kalah keren. Dari situ gue mulai suka nulis deh….πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s