Hujan di Minggu Sore

rain

Agaknya ada satu yang setia bertamu jelang musim gugur Taipei:

hujan di Minggu sore.

Titik-titik air yang tergesa membasuh basahi bumi, walau tak pernah diundang. Seolah ingin cepat-cepat menghapus yang tak pernah terlupa. Dan, tidak Pak Sapardi, meski Ia bukan datang di bulan Juni, Ia tidaklah kurang tabah. Ia tetap menyimpan yang tak sempat terucap.

Ke dalam tiap-tiap hidup, tulis Wadsworth, hujan sesekali harus menghampiri. Tak peduli di bulan enam atau sepuluh. Walau tak diminta, dan terkadang menyamarkan air mata. Namun toh, kita tetap menari bersamanya,

menyambut hujan di Minggu sore.

Barangkali karena di sana, di batas pertemuan yang tak terlupa dan tak terucap, kita menyimpan harap. Akan sebuah pelangi. Yang menerobos dingin dan hening yang ada,

sehabis hujan di Minggu sore.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s