Man Seeks God: My Flirtations with the Divine

image source: post-gazette.com
image source: post-gazette.com

Ada yang mengecewakan ketika membaca buku kedua Eric Weimer, Man Seeks God: My Flirtations with the Divine —yang saya beli ketika obral di toko buku.

Barangkali karena ekspektasi berlebih mengingat buku pertama Eric, The Geography of Bliss, yang mengisahkan perjalanannya sebagai penggerutu yang mencari kebahagiaan, adalah bacaan menawan. Saya sedikit bangga waktu mempromosikan buku itu ke sejumlah kawan, karena mereka ikut terpesona dengannya.

Tapi tidak kali ini.

Man Seeks God hampir identikal dengan The Geography of Bliss. Struktur buku, gaya penulisan, hingga ke genre memoir berbumbu humor—bahkan jumlah halaman—yang dipakai Eric nyaris serupa. Hanya kali ini objeknya yang berbeda. Jika dulu Ia ingin mencari tahu perihal kebahagiaan, kali ini yang dicari lebih besar: Tuhan. Kalau dulu Ia seorang penggurutu, sekarang Ia adalah seorang Yahudi Agnostik (atau dalam bahasa Eric: confusionist—dari kata confusion, kebingungan)

Ini juga membuat saya bingung. Mengapa resep yang sama gagal menghasilkan rasa yang serupa? Masalahnya barangkali sudah muncul ketika pertama Eric memutuskan membuat buku ini. Jikalau di buku pertama, Ia punya alasan yang kuat dan jujur.

Karena pada akhirnya, siapa yang tidak ingin tahu resep kebahagiaan seorang penggerutu?

Namun alasan itu, yang saya kira, tidak muncul di buku Man Seeks God. Motivasinya untuk mencari Tuhan, karena terpukau pertanyaan sederhana suster ketika Ia dirawat di rumah sakit: sudahkah kamu menemukan Tuhanmu? Tapi tidak, Eric tidak sedang divonis kanker stadium akhir ataupun mengalami Pengalaman Dekat Kematian (Near Death Experience), karena sakit yang ada ternyata akibat kumpulan gas di usus. Alasan ini nantinya coba diperkuat dengan sedikit bumbu pertanyaan dari anaknya soal Tuhan dan pengalaman “mimpi buruk” malam hari di Tokyo.

Ini membuat perjalanannya mempelajari beragam agama, atau sekte (yang, sekali lagi menurut saya, tidak jelas dasar pemilihannya), mulai dari Sufisme, Raelism, Wicca, hinggga Kaballah, menjadi kering dan tidak menggigit. Saya tidak melihat ada dorongan komitmen seperti yang diperlihatkan A.J Jacobs ketika menulis buku dengan topik serupa, The Year of Living Biblically. Ibarat bangunan, buku ini dibangun dari fondasi yang rapuh. Dan itu sudah cukup membuat saya membacanya sekedar untuk menyelesaikan.

Tapi jangan salah. Buku Eric bukanlah sebuah karya yang buruk. Ia kaya akan anekdot dan juga ditulis dengan narasi yang baik. Hanya saja ia juga bukan karya yang  cemerlang. Ini sebuah buku yang, dengan segala hormat kepada Eric, biasa saja. Ia tetap menyiratkan kejujuran, selera humor, dan wawasan luas Eric (yang mengambil banyak kutipan dalam kadar, err, agak berlebihan), yang bisa membawa kita tertawa dan sesekali berpikir. Tapi hanya sebatas itu.

Pada akhirnya, Man Seeks God ialah sebuah buku, seperti halnya epilog datar tanpa kesimpulan kuat yang dibuat Eric sebagai penutup, yang akan kita baca sekilas saja.

Yang kemudian tak banyak kita bicarakan, apalagi kita ingat.

Judul: Man Seeks God: My Flirtations with the Divine

Penulis: Eric Weiner

Penerbit: Twelve, 2012

Tebal Buku: 349 halaman

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s